Meretas Jejak Propolis
Suatu ketika, seorang
pebudidaya madu menemukan sebuah sarang lebah yang tak lazim. Dilihat
dari ukurannya, sarang lebah ini terlalu berat. Ia pun kemudian menduga
volume madu dalam sarang itu mungkin saja sangat banyak. Namun ternyata
diagnosis awalnya itu salah.
Ketika sarang itu dibedah,
bukan madu dalam jumlah besar yang ditemukannya, melainkan seonggok
bangkai tikus. Sang pebudidaya itu tak habis pikir. Bagaimana mungkin
seekor tikus dapat masuk ke sarang yang memiliki pintu masuk yang kecil?
Tak hanya itu, ia juga tak mampu menemukan jawaban logis mengapa tikus
yang telah lama mati itu tak membusuk di dalam sarang?
Untuk menjawab rasa penasarannya, pebudidaya itu membawa
temuannya ke sebuah laboratorium. Di sana, jenasah tikus itu dianalisis.
Hasilnya ditemukan jawaban mengapa binatang pengerat itu mati, namun
tidak membusuk.
Ternyata
setelah tikus itu masuk ke sarang lebah, para lebah berusaha
melumpuhkannya dengan cairan propolis sampai akhirnya binatang malang
itu mati. Jenasah tikus itu kemudian dilumuri oleh propolis agar tak
membusuk, menjadi sarang bakteri, dan menyebarkan virus di dalam sarang
lebah. Setelah sekian lama sampai akhirnya ditemukan si pebubidaya,
cairan propolis itu ternyata tetap membaluri bangkai binatang pengerat
itu.
Beberapa penelitian
(Hoyt, 1965 ; Johnson dkk., 1994, dan Garedew dkk. 2004) mendukung hasil
analisis laboratorium di atas. Tak hanya tikus, berbagai parasit,
binatang kecil, dan benda asing lainnya yang berhasil masuk ke sarang
lebah juga bernasib sama.
|
Campuran Ramuan Pengawet Mayat
Sebenarnya kemampuan propolis untuk mengawetkan mahluk
hidup yang telah mati bukan pengetahuan baru bagi manusia. Setidaknya
lebih dari 3.000 tahun yang lalu manusia-manusia yang hidup pada zaman
Mesir kuno telah menggunakan propolis dalam proses pembalseman atau
pengawetan mayat (mumifikasi).
Bangsa Mesir kuno percaya terdapat kehidupan setelah mati.
Oleh karena itu mereka berasumsi tubuh orang-orang yang telah meninggal
harus tetap utuh agar dapat mengarungi kehidupan di alam gaib. Walhasil,
bangsa yang pertama memanfaatkan lebah ini pun mengawetkan mayat
orang-orang yang telah berpulang?terutama bagi para raja (firaun) dan
keluarganya.
Proses pembalseman itu sendiri menggunakan ramuan yang terdiri
beragam unsur. Sarang lebah termasuk salah unsur yang digunakan. Selain
madu dan lilin, propolis juga dipakai sebagai bahan campuran ramuan
itu.
Proses Mumifikasi (http://bumptiousq.hubpages.com)
Fungsi propolis dalam proses mumifikasi itu untuk
melindungi tubuh orang yang meninggal dari mikroba, parasit, dan
bakteri. Itulah sebabnya tubuh orang yang telah dibaluri ramuan khusus
yang mengadung propolis itu tak hancur walaupun telah berumur ribuan
tahun.
Cairan Lebah Serbaguna
Di luar itu, masyarakat tempo dulu juga telah
mengeksplorasi manfaat propolis untuk berbagai keperluan. Selain sebagai
bahan campuran ramuan dalam proses mumifikasi, bangsa Mesir kuno juga
menggunakan propolis sebagai lem. Sementara itu, masyarakat Yunani kuno
mencampur propolis dengan olibanum styrax dan ramuan aromatik tertentu untuk menghasilkan parfum istimewa bernama polyanthus.
Walaupun memiliki beragam manfaat, istilah propolis hampir
selalu identik dengan ranah kesehatan. Keterakitan erat ini bukan tanpa
alasan. Jauh sebelum umat manusia menggunakan propolis, para lebah telah
memanfaatkan cairan ini untuk melindungi sarangnya ? mencegah, bahkan
membunuh virus, bakteri, dan benda-benda asing lainnya.
Manusia yang lebih belakangan memanfaatkan cairan yang
dihasilkan oleh lebah ini kemudian menamakannya propolis. Istilah ini
berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu pro (di depan) dan polis (kota). Gabungan kedua kata ini dapat diartikan sebagai pertahanan kota?sarang lebah.
Dalam legenda Romawi kuno juga disinggung ihwal propolis.
Dalam sebuah mitologi dikisahkan mahadewa Jupiter mengubah dewi Melissa
menjadi lebah agar dapat memproduksi zat ajaib yang mampu menyebuhkan
penyakit. Zat inilah yang kemudian disebut propolis. Dalam bahasa Romawi
kuno sendiri , propolis berasal dari kata propolire yang berarti mantel.
Propolis dan Kesehatan
Masyarakat yang hidup dalam berbagai peradaban kuno
tercatat telah menggunakan propolis untuk mengatasi berbagai problem
kesehatan. Orang-orang Mesir, Yunani, dan Romawi kuno telah mengunakan
cairan ini untuk memulihkan kesehatan dan menyembuhkan luka pada kulit.
Di luar itu, masyarakat Yunani kuno menggunakan propolis
yang memiliki sifat anti-mikroba. Orang-orang Romawi kuno menggunakan
propolis untuk menyembuhkan infeksi berbagai penyakit penyakit,
sementara masyarakat Cina kuno memanfaatkannya sebagai obat sakit gigi
dan membunuh bakteri penyakit.
Namun dari sekian banyak peradaban kuno yang memanfaatkan
propolis, harus diakui masyarakat Yunani dan Romawi kuno yang berhasil
mengeksplorasi manfaat cairan ini untuk kepentingan kesehatan. Pasalnya,
Tak kurang dari penulis kedua peradaban ini memaparkan proses pembuatan
dan pengaplikasian propolis yang kerap dideskripsikan sebagai produk
alami lebah ketiga, di samping madu dan lilin lebah.
|
Bapak
obat moderen, Hippocrates (460-377 SM) telah mendeteksi berbagai unsur
penyembuh dalam cairan propolis. Ia menyebut cairan ini mampu
menyembuhkan luka dan borok, baik dari luar maupun dalam tubuh.
Filsuf Aristotles (384 – 322 SM) juga menyinggung khasiat propolis dalam bukunya yang terkenal berjudul Historia Animalium (Sejarah Hewan). Dalam buku itu, Aristotles menyebut propolis sebagai “ obat untuk infeksi kulit dan luka borok.
|
Memasuki abad pertama masehi, Discorides, memperikarakan propolis bersumber dari styrax : air
liur lebah berawrna kuning beraroma manis. Sifat cairan ini lembut dan
mudah menyebar setelah dikumpulkan dari berbagai damar yang wangi. Styrax bersuhu
hangat, atraktif, dan baik untuk menarik duri atau serpihan lain yang
menancap pada kulit. Dan bila diubah menjadi asap/uap dapat mengobati
batuk dan menyembuhkan penyakit kulit.
Gaius Plinius Secundus (Pliny) (http://thaumazein-albert.blogspot.com) |
Sementara
itu, ilmuan Romawi kuno, Pliny (23-79 M) berhasil mempelajari dan
memahami lebih detail ihwal sarang lebah. Ia juga berhasil mempelajari
dan mengeksplorasi manfaat dari propolis. Menurut sang ilmuan, propolis
berasal dari berbagai pucuk pohon, seperti beringin, poplar, elm, dan
gelagah.
Lebih lanjut, Pliny
memaparkan ekstrak cairan itu dapat menyembuhkan kulit yang tertancam
benda asing, bengkak, pengerasan kulit, meredakan nyeri otot, dan
menyembuhkan luka luar. Di luar itu, ilmuan asal Romawi itu membagi
propolis menjadi tiga kategori sesuai fungsinya. Selain propolis itu
sendiri, Pliny menyebut istilah commosis yang berguna sebagai
desinfektan dan Pissoceros yang berguna untuk memperkuat pertahanan
tubuh. (Bersambung...) (TvA)
|